wartawan Saka Post (Lampung Barat) tidak tahu aturan

8 May

based on http://www.kaskus.us/showthread.php?t=14247815

Siang tadi toko tempat saya bekerja di Bandarlampung, didatangi oleh wartawan dari Saka Post. Saya selaku manajer toko datang menemui para wartawan ini (2 orang).
Si wartawan hanya sekedar mengajak bersalaman saja, tapi tidak menyebutkan nama atau memberikan kartu nama untuk perkenalan. Lalu ketika saya tanya keperluannya, mereka tidak memberikan jawaban jelas, hanya mengatakan bahwa mereka hanya hendak bertanya-tanya untuk mencari informasi.

Mereka mengatakan bahwa mereka dari bagian ekonomi, ingin mencari informasi untuk berita di halaman ekonomi. Mereka bertanya-tanya mengenai bidang usaha dan pola penjualan kami, lalu mereka menanyakan beberapa pertanyaan aneh yang tidak pantas mereka tanyakan.

Mereka bertanya soal informasi internal perusahaan yang tidak ada hubungannya terutama di halaman ekonomi, seperti status ijin perusahaan dan besar upah karyawan. Karena hal ini adalah informasi internal perusahaan dan mereka bukan pihak yang berwenang mengetahuinya, saya menolak memberikan informasi, dan saya katakan bahwa informasi tersebut adalah rahasia perusahaan.

Lalu rekan si penanya malah menuding saya menutupi keburukan perusahaan, bahwa perusahaan bertindak tidak benar. Saya jelaskan baik-baik bahwa pertanyaan mereka tidak etis dan tidak relevan untuk informasi halaman ekonomi suatu koran, malah mereka bilang kalau bertanya itu sah-sah saja.

Jelas saya mengerti bahwa bertanya itu sah, tapi apakah menanyakan rahasia perusahaan etis dilakukan oleh seorang wartawan untuk halaman ekonomi? Dan pantaskah kalau pihak perusahaan tidak memberikan informasi, lantas dituding tidak benar dan menutup-nutupi ketidak beresan tanpa bukti?

Saya kembali bertanya untuk menegaskan maksud kunjungan mereka, apakah hendak meliput untuk berita di koran, ataukah menawarkan iklan, karena pertanyaan-pertanyaan mereka tidak jelas maksudnya dan tidak relevan dengan status “wartawan halaman ekonomi” yang mereka katakan dari awal. Ternyata si wartawan sekali lagi memberikan jawaban tidak jelas, yaitu “hanya bertanya-tanya saja mencari informasi”.

Karena saya sudah merasa tersinggung dengan tudingan tidak menyenangkan dari mereka dan ketidak jelasan maksud kedatangan mereka, saya tidak berminat melanjutkan dan mempersilahkan mereka untuk meninggalkan tempat, disamping ada kesibukan yang saya terpaksa tinggalkan untuk menemui mereka yang ternyata tidak jelas maksud kunjungannya dan menghabiskan waktu saya tanpa ada manfaatnya.

Ternyata, si wartawan yang tadinya menuding saya, malah mengeluarkan kata-kata provokatif yang rasial dan intinya mengajak adu kekerasan. Setelah sedikit adu mulut, akhirnya mereka meninggalkan tempat.

Lalu karyawan toko yang menerima dan memberitahu saya soal kedatangan wartawan tadi, melaporkan bahwa dari awal kedatangan mereka sudah tampak tidak sopan. Mereka sudah dipersilahkan menunggu saya turun dari kantor menemui mereka (karena memang saya menerima tamu tidak di kantor), tetapi awalnya mereka malah sedikit memaksa hendak berjalan sendiri menuju kantor saya. Tamu kok seenaknya sendiri? Sudah dipersilahkan menunggu, tetapi memaksa hendak masuk.

Lalu atas dasar apa mereka menuduh saya menutupi ketiak beresan perusahaan? Mereka bukan petugas yang berwenang seperti pihak pemerintah, tentu pihak toko tidak memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada mereka. Andaikata mereka adalah petugas pemerintahan yang berwenang, tentu saya wajib memberikan informasi. Tetapi mereka hanya wartawan, dan pertanyaan yang diajukan tidak relevan. Sah saja dong kalau saya menolak. Bukankah tuduhan tanpa bukti adalah fitnah?

Selama ini sudah banyak media yang datang ke tempat saya dan meliput, dan tujuan kedatangan mereka jelas, yaitu meliput berita sesuai bidangnya. Pertanyaan yang diajukan juga tertata dan selalu relevan dengan ruang lingkupnya, selayaknya media profesional. Tetapi baru kali ini saya mendapat tamu media yang petugasnya sama sekali tidak sopan, tidak tahu aturan, seenaknya, dan kasar.
Belum lagi penampilan yang tidak profesional, yaitu berkenalan tidak menyebutkan nama / memberi kartu nama dan koran sampelnya digulung beserta map kertas murahan (seperti minta sumbangan), tidak ditunjukkan ke saya (sebagai sampel) sampai saya minta melihat sampelnya.

Kepada manajemen Saka Post tolong supaya mendidik karyawannya dengan baik dan profesional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: